Approaches to Language Testing

Terdiri atas:
  1. Integrative Test
  2. Descrete Test

I. Tes Integratif

Tes integratif adalah tes yang mengukur lebih dari 1 komponen/keterampilan bahasa.
Bentuk tes integratif:

  – Cloze test

  – C-test

  – Dictation

Tes Integratif menggunakan teks bacaan sebagai dasar penyusunannya.

 

A. Cloze Test:

Pada cloze test, beberapa kata pada teks tersebut dihilangkan dan peserta tes diminta untuk mencari dan mengisi kata-kata yang dihilangkan itu. Penghilangan kata-kata mempergunakan sistem:

  – fixed ratio deletion, atau

  – variable ratio deletion

Penyekoran bisa dilakukan dengan pendekatan ‘correct answer’ atau ‘acceptable answer’.

 

B.  C-test:

C-test tidak lain adalah varian dari Cloze-test.

Pada C-test, peserta dibantu dengan cara-cara tertentu untuk menemukan kata-kata pada teks yang telah dibuang.

Bantuan diberikan, misalnya, dengan memberikan satu atau dua huruf pertama pada setiap kata, atau juga dengan memberi garis bawah yang jumlahnya sama dengan jumlah huruf pada kata yang dibuang.

 

C. Dikte

Pada tes dikte ini, teks dibacakan dan peserta tes menuliskan apa yang mereka dengar. Pembacaan dilakukan 3 kali sebagai berikut:

Pembacaan I  dilakukan dengan kecepatan normal dan peserta tes dilarang menuliskan apa pun. Pembacaan ini bertujuan memberi kesempatan kepada peserta tes untuk menangkap isi teks secara keseluruhan. 

Pembacaan II  dilakukan dengan menggunakan jedah pada bagian-bagian tertentu dan peserta tes menuliskan apa yang didengar. Tidak ada pengulangan atas bagian-bagian yang dibaca pemberi tes.

Pembacaan III dilakukan dengan kecepatan normal seperti pembacaan I dan peserta tes diperkenankan melakukan revisi atas apa yang telah ditulisnya.

Catatan: Tes-tes bentuk Cloze test, C-test, dan Dikte dikatakan termasuk tes integratif karena untuk bisa mengerjakan tes-tes tersebut, peserta tes tidak bisa hanya mengandalkan pada salah satu komponen/keterampilan bahasa saja, melainkan dia harus mencurahkan segenap pengetahuan kebahasaan dan keterampilan berbahasanya. Dalam dikte, misalnya, siswa dituntut mempunyai keterampilan menyimak dan menulis yang memadai. Dalam keadaan dia tidak bisa menangkap satu atau dua kata yang didiktekan, dia harus menerka-nerka dengan mendayagunakan pengetahuan tata bahasa dan kosa katanya.

 

II. Tes Diskrit

Tes ini hanya mengukur satu komponen bahasa atau satu keterampilan bahasa saja.   Jenis-jenis tes diskrit:

1.  Tes Tata Bahasa

2.  Tes Kosa Kata:

  – kosa kata aktif

  – kosa kata pasif

3.  Tes Membaca Pemahaman

Pemahaman tingkat literal adalah kemampuan siswa menangkap informasi yang tertera secara eksplisit (tersurat) dalam teks. Pemahaman tingkat inferensial adalah kemampuan siswa menangkap informasi yang implisit (tersirat) dalam teks. Pemahaman tingkat evaluasional adalah kemampuan siswa memberikan reaksi evaluatif terhadap isi teks.

4.  Tes Menyimak

Tes ini pada dasarnya sama dengan tes membaca. Hanya saja, kalau tes membaca mengukur pemahaman atas wacana tulis, sedang menyimak atas wacana lisan.

5.  Tes Menulis

Tes ini biasanya diukur melalui tes komposisi, baik yang guided maupun yang unguided.   Model penyekoran dalam tes menulis:

a)  holistik: skor didasarkan pada kesan umum penilai atas kualitas karangan.

b)  analitik: skor didasarkan atas kualitas beberapa komponen yang akan dinilai. Skor akhir merupakan jumlah dari skro-skor masing-masing komponen tersebut.

6.  Tes Berbicara

Pada prinsipnya, tes berbicara sama dengan tes menulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s